Gula, Si Manis yang Membuatmu Cepat Tua

Masih ingatkah kita ketika sedang marah-marah, orang tua atau siapa pun yang ada di sekitarmu biasanya memperingatkan bahwa marah akan membuatmu cepat tua? Setelah mendengar pernyataan tersebut, seketika itu pula dirimu bersegera menahan diri agar tidak marah-marah karena teringat efek yang dapat diberikan bila itu terus dilakukan. Sampai kemudian kita menyadari, bahwa marah tidak membuat kita cepat tua. Ya, mungkin hanya membuatmu terlihat seperti orang berusia tua dengan dahi berkerut dan wajah cemberut. Namun, ketika kemudian kita merasa aman dari kenyataan tersebut, ternyata ada hal yang tidak kita duga sedang mengintai diri kita semua. Ia yang memberi dampak penuaan yang sebenar-benarnya. Dia adalah gula.

Gula, karbohidrat sederhana yang terpecah menjadi fruktosa, glukosa, sukrosa, dan disakarida, merupakan bagian dari bahan makanan yang biasa kita konsumsi. Rasa manis dalam kandungannya membuat gula begitu disukai mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Rasanya tidak ada seorang pun yang tidak menyukai gula. Gula juga menjadi salah satu sumber energi yang dibutuhkan manusia untuk beraktivitas.

Dampak positif maupun negatif dari mengonsumsi gula mungkin sudah sering kita dapatkan dari beragam informasi di media maupun buku bacaan. Zat ini merupakan musuh terbesar bagi gigi kita ketika dipertemukan dengan bakteri dalam plak yang berpotensi merusak email gigi. Bila melihat adik kecil dengan gigi ompong maka dengan segera kita berasumsi bahwa adik tersebut gemar mengonsumsi permen atau cokelat dengan banyak kandungan gula di dalamnya. Gula telah menjadi musuh bagi manusia sejak kecil.

Para orang tua pun bukannya terbebas begitu saja dari ancaman mengonsumsi gula. Tentunya pernah ada satu dua orang di sekitar kita yang didiagnosis menderita penyakit diabetes. Penyakit diabetes terjadi karena adanya gangguna kerja pada insulin. Insulin yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas ini berfungsi untuk menjaga kadar glukosa dalam darah. Gangguan atau bahkan kegagalan kerja insulin tadi membuat kadar glukosa dalam darah meningkat sehingga menyebabkan seseorang menderita diabetes, tingginya kadar gula darah. Penyakit ini termasuk kronis (jangka panjang) sehingga begitu diwaspadai karena kedatangannya bisa terasa lambat. Pun ketika sudah mengalaminya -dapat berlangsung dalam waktu lama.

Kelebihan kadar gula dalam diri seseorang juga dapat membuat seseorang menderita obesitas. Obesitas merupakan penumpukan lemak yang berlebihan akibat ketidakseimbangan asupan energi (energy intake) dengan energi yang digunakan (energy expenditure) dalam waktu lama (WHO,2000). Gula yang menjadi sumber energi dapat berubah menjadi lemak apabila tidak digunakan, lemak itulah yang kemudian akan menumpuk dalam tubuh dan membuat orang menjadi obesitas atau kelebihan berat badan. Obesitas ini dapat terjadi pada semua kelompok usia, baik muda maupun tua, dengan tingkat resiko yang berbeda-beda.

Gula Hadir dalam Proses Penuaan

Penuaan pada manusia merupakan proses alamiah yang tidak mungkin dihindari. Penuaan dapat terjadi karena semakin menurunnya metabolisme dalam tubuh, dimana proses regenerasi dan pembaharuan sel dalam tubuh kita berjalan semakin lambat seiring usia. Namun, penuaan dapat juga terjadi lebih awal. Biasanya ini disebut sebagai penuaan dini. Hal tersebut dapat terjadi ketika air dan kolagen yang menjadi sebab kulit kita terasa kenyal dan kencang mulai hilang. Penyebab yang menygejutkan adalah karena terlalu banyaknya gula dalam tubuh kita. Gula yang dikonsumsi berlebih dapat merusak kolagen dan mempercepat glikasi.

Glikasi adalah proses dimana gula dalam darah akan merekatkan diri ke protein dan membentuk molekul baru yang berbahaya yang disebut advanced glycation end products (AGEs). Menurut Dr. Marilyn Glenville dalam wawancara dengan bbcgoodfood.com zat-zat dari AGEs itulah yang menyebabkan kulit menjadi keriput dan struktur sel mengeras. “Jika Anda memikirkan cara pengerasan arteri yang menyebabkan penyakit jantung koroner, proses serupa terjadi di sel-sel kulit,” ujar Glenville.

Menurut Septa Clara Astiyah, SST, MARS, RD dari RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang, “AGEs ini akan merusak protein yang berada di sekitarnya seperti efek domino sehingga semakin banyak konsumsi gula maka akan semakin banyak kerusakan yang dapat terjadi terhadap protein yang membuat kulit kita tidak kencang.”

Glikasi menyebabkan kerusakan di kolagen, elastin dan serat protein yang menjaga kulit tetap kencang, halus dan bebas kerutan dari dalam. Saat protein tersebut rusak, maka kolagen dan serat elastin menjadi terpecah dan terputus satu sama lain serta menimbulkan garis halus, kerutan/keriput dan kulit kendur. Efek ini biasanya muncul pada usia 30 tahunan dan meningkat dengan cepat setelahnya.

Baca juga: Mengontrol Makanan untuk Meraih Kesehatan

Gula Mengubah Gaya Hidup

Mengonsumsi gula boleh jadi merupakan gaya hidup yang telah kita terapkan sejak dini. Orang tua terkadang gemar memberi makanan atau minuman berkandungan gula tinggi kepada anaknya karena dapat merangsang mereka menjadi anak yang aktif. Kebiasaan mengonsumsi gula pun turut terbawa hingga dewasa. Ketika sedang sedih atau merayakan sesuatu, hampir pasti ada gula di salah satu menu hidangannya.

Gula memang tidak sepenuhnya jadi biang kerok bagi segala penyakit atau masalah tersebut. Sebab zat tersebut pasti memiliki fungsi penting dalam kehidupan kita. Gula menjadi masalah jika gula dikonsumsi secara berlebihan dan tidak dapat diserap tubuh dengan baik. Apa yang berlebihan sudah pasti jadi masalah. Begitu juga dengan beragam zat yang masuk tapi tidak dapat diserap atau dikeluarkan dari tubuh karena gaya hidup manusia itu sendiri, seperti malas bergerak, beraktivitas, bahkan berolahraga untuk menjaga metabolisme dan tubuh tetap dalam kondisi optimal.

Stefania Widya Setyaningtyas, S.Gz, MPH mengatakan bahwa asupan gula setiap orang berbeda. Bagi orang normal tanpa diabetes disarankan untuk mengkonsumsi gula tidak lebih dari 10% kebutuhan energi. “Ini setara dengan 4 sendok makan atau 50 gram per hari,” ujar Dosen Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga dikutip dari fkm.unair.ac.id. Sedangkan bagi penderita diabetes disarankan untuk membatasi asupan gula tidak lebih dari 5% per hari.

Membiasakan diri untuk berolahraga juga menjadi salah satu cara agar kita dapat terbebas dari resiko gula dalam darah. Berolahraga tidak hanya dapat membakar lemak tapi juga dapat menurunkan kadar gula dalam darah hingga di batas normal. Banyak alternatif  yang dapat dilakukan untuk berolahraga, seperti bersepeda, berenang dan senam. Semua cara tersebut berpotensi menurunkan kadar gula darah -kadar gula yang diturunkan tergantung dari intensitas latihan itu sendiri.

Pada akhirnya manusia memang harus membuat pilihan dalam hidup. Mengonsumsi gula yang manis memang menyenangkan. Namun, risiko mengintai jika kita mengonsumsinya berlebihan. Atau, menahan diri untuk tidak berlebihan serta mengimbanginya dengan melakukan aktivitas fisik secara teratur untuk membuat sehingga terjadi keseimbangan kadar gula dalam tubuh. Dengan begitu tubuh dapat menjadi lebih sehat.

Referensi:

  • https://www.bbcgoodfood.com/howto/guide/will-sugar-make-you-old
  • https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1648/benarkah-gula-menyebabkan-penuaan-dini
  • https://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/obesitas/apa-itu-obesitas/
  • https://fkm.unair.ac.id/pentingnya-menjaga-asupan-gula-harian-tubuh/

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *