Aktualisasi Diri Seorang Anak di Zaman Penuh Riak

Saat ini mudah bagi kita menggulir ponsel dan membaca berita-berita—tak terkecuali berita di mana seorang anak jadi tokoh utama. Berita-berita itu kadang bikin bergidik, sesekali bikin kagum, dan sering kali bikin kita heran. Ada anak-anak yang hebat sejak belia—misalnya mampu menghafal sekian juz Al-Qur’an atau meraih piala di cabang olahraga tertentu; ada pula anak-anak yang seakan-akan menjelma monster di usia mudanya—entah menjadi pembuli tingkat rendah maupun pelaku kekerasan ekstrem. Tak jarang semua kelakuan itu—yang baik maupun buruk—terunggah di media sosial seolah-olah sengaja dipamerkan. Apa pasal mereka bertindak demikian? Di sini kita patut menduga: akarnya bisa jadi adalah aktualisasi diri.

Sebelum bicara lebih jauh ke ranah teoretik, ada beberapa ayat Al-Qur’an yang bisa dijadikan bahan permenungan soal aktualisasi diri. Dalam Al-Baqarah ayat 30, manusia ditunjuk oleh Allah sebagai khalifah di bumi, yang artinya manusia punya kapasitas untuk memegang mandat besar dan mengimplementasikan potensi dirinya. Dalam At-Tin ayat 4 Allah bahkan menyebut manusia diciptakan “dalam bentuk sebaik-baiknya” yang mengindikasikan bahwa manusia punya potensi untuk menjadi pribadi unggul. Dua ayat tersebut dapat menjadi dasar bahwa manusia—terutama sejak kanak-kanak—punya potensi untuk mengaktualisasikan dirinya menjadi apa pun.

“What a man can be, he must be. This need we may call self-actualization.”

Itu adalah perkataan terkenal Abraham Maslow dalam A Theory of Human Motivation (1943). Kutipan itu menjadi sandaran bagi para psikolog di kemudian hari tentang pentingnya aktualisasi diri, bahkan aktualisasi diri disebut-sebut sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia.  Lantas, kenapa aktualisasi diri menjadi kebutuhan dasar? Kurt Goldstein pernah bilang bahwa aktualisasi diri merupakan titik puncak di mana seseorang membutuhkan untuk menjadi istimewa dibanding orang selainnya.

Jikalau aktualisasi kita anggap sebagai kebutuhan dasar, berarti tidak semestinya kita menganggapnya remeh, terlebih dalam proses pendampingan dan pengasuhan anak-anak hingga remaja. Masa anak-anak hingga remaja merupakan titik krusial dalam proses pendidikan dan penempaan diri seorang anak, termasuk dalam membentuk proses aktualisasi dirinya.

Kemudian, kenapa ini menjadi penting? Proses pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua di rumah maupun proses pembelajaran yang diberikan oleh para guru sekolah tidaklah menjadi sesuatu yang bernilai jika tidak memiliki arah yang jelas bagi sang anak. Aktualisasi diri adalah titik terakhir dari proses tersebut. Dengan pengasuhan yang tepat, diharapkan sang anak ketika tumbuh menjadi dewasa sudah mampu dengan fasih mendefinisikan keistimewaan dalam dirinya, kemudian dia alihrupakan kesitimewaan tersebut dalam bentuk aktitvitas yang menghasilkan sebuah karya positif nan jujur.

“He must be true to his own nature,” demikian kalimat lain dari  Abraham Maslow yang cukup lugas untuk dijadikan kriteria aktualisasi diri yang tepat. Entah berapa banyak anak-anak didorong untuk mengarahkan dirinya kepada sesuatu yang bukan dari dalam dirinya. Orang tua dan guru semestinya memiliki kecakapan dalam membantu mengungkap keistimewaan diri sang anak. Perlu kesungguhan dari orang tua dan guru untuk menggali potensi dan minat tiap-tiap anak, yang tentu berbeda-beda. Upaya “penggalian berlian terpendam” ini perlu dilakukan supaya anak-anak tidak sekadar menjadi objek yang melulu diarahkan oleh para orang tua, tapi juga sebagai subjek yang berhak untuk menyusun mimpi sendiri. Dengan cara itu, aktualisasi diri yang dilakukan oleh sang anak—yang sedang beranjak dewasa tersebut—bisa tepat selaras dengan karakter dan bakat yang dominan di dalam dirinya, bukan cuma didorong oleh paksaan eksternal.

Pentingnya Peran Keluarga dalam Proses Aktualisasi Diri Anak

“Family is the cradle of learning,” ucap Thomas Lickona, seorang ahli pendidikan karakter yang banyak menulis buku seputar pendidikan. Itu adalah ucapan yang secara jelas menunjukkan pentingnya peran keluarga dalam proses belajar seorang anak. Karakter dan bakat disemai di dalam rumah. Sekolah cukup menjadi pendukung secara teknis dan administratif. Self esteem merupakan langkah penentu dari baik atau tidaknya sang anak mengaktualisasikan dirinya. Self esteem merupakan sebuah kondisi di mana sang anak memiliki kepercayaan pada diri sendiri bahwa mereka memiliki keistimewaan yang menjadi bekal mereka untuk mengaktualisasikan diri. Upaya menumbuhkan dan mengembang self esteem seorang anak tentunya mula-mula dilakukan di dalam rumah, terutama oleh para orang tua.

Alfred Adler mengatakan jika sang anak pada usia 15 tahun belum mengtahui apa yang ingin mereka capai biasanya disebabkan oleh minimnya dukungan dari orang tua maupun guru di sekolah dalam membantunya mengungkap keisitimewaan diri. Jika self esteem tidak tuntas dicapai oleh anak, maka akan berdampak pada rendahnya kepercayaan pada diri mereka bahwa mereka memiliki keistimewaan. Pada kondisi ini, anak yang berusia remaja mendapatkan dorongan yang cukup kuat dari eksternal yaitu lingkungan terdekat. Lingkungan terdekat bukan berarti dekat secara fisik, melainkan dekat secara akses pemaparan dari sebuah situasi. Fear of missing out mendorong mereka untuk berusaha menjadi sosok yang dianggap ada di lingkungan yang terbiasa sang anak terpapar olehnya. Sehingga, anak remaja tersebut tidak jujur dan bahkan justru tidak menjadi dirinya sendiri. Entah berapa banyak anak ataupun remaja mencoba mengaktulisasikan diri tanpa kejujuran dan tanpa keselerasan dengan karakter dan bakat yang mereka miliki. Puncaknya, sebagian terjatuh pada aktualisasi diri yang menyimpang dari nilai, etika, dan norma apapun.

 

Aktualisasi Diri Anak dalam Bimbingan Islam

“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)

Ayat itu secara tersirat menunjukkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan nikmat pendengaran, penglihatan, dan hati nurani bukan untuk melakukan apa pun sekehendaknya, melainkan “agar kamu bersyukur”, yaitu tidak lain menggunakan perangkat-perangkat tubuh tersebut untuk beribadah kepada Allah. Soal ibadah ini termaktub dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 56.

Dalam konteks pendidikan, Abdurrahman an-Nahlawi pernah berkata bahwa atas pendengaran, penglihatan, hati, dan seluruh anggota tubuh yang diberikan Allah ﷻ, manusia bertanggung jawab untuk memanfaatkan semuanya dalam jalan kebaikan. Perkataan Abdurrahman An-Nahlawi tersebut menggambarkan bahwa Islam mengajarkan pola pengasuhan dari orang tua di rumah dan pengajaran dari guru di sekolah harus mengarahkan anak pada pemberdayaan seluruh unsur dalam diri mereka agar memiliki kebermanfataan dalam kehidupan bermasyarakat.

Setiap anak memiliki anatomi diri yang sama. Akan tetapi ada unsur-unsur tertentu pada diri mereka yang unik dan khas, sehingga membuat mereka punya keistimewaan dan keunggulan masing-masing. Dengan demikian, melalui perantaran pengajaran di rumah maupun sekolah, anak berusia remaja hendaknya telah tuntas memunculkan kepercayaan pada dirinya bahwa mereka memiliki keunikan yang istimewa yang dengannya mereka bisa alihrupakan menjadi aktualisasi diri yang positif nan bermanfaat. Aktualisasi diri bukan sekadar menjadi apa atau siapa, yang lebih penting adalah bagaimana mereka memanfaatkan berbagai keistimewaan dan potensi yang mereka punya untuk memancarkan manfaat bagi lingkungan sekitar, yang pada akhirnya menjadi sarana bagi mereka untuk memperoleh ganjaran dari Allah kelak.

 

Editor: Erwin Setia

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *