Bagaimana Seharusnya Kita Menyikapi Kepungan Bad News?

Pada 21 Agustus 2026, Maudy Ayunda, seorang penyanyi kenamaan yang juga pernah kuliah di University of Oxford dan Stanford University mengunggah video yang kelak menjadi sejarah. Video itu diunggahnya ke YouTube dengan judul “mindfulness in the age of bad news”. Sesungguhnya Maudy Ayunda bukan Youtuber yang aktif mengunggah video. Di kanal YouTube-nya yang kini dicari-cari orang itu, ia cuma bikin video kira-kira sebulan sekali. Sebagian besar isinya positif belaka: tips-tips pengembangan diri, ulasan buku, dan pandangan pribadi tentang suatu topik. Jadi, kalau mau jujur, konten-konten Maudy secara umum sama sekali tidak terlihat berangkat dari niat buruk. Ia kelihatan sekadar ingin berbagi hal-hal yang menurutnya berguna dan layak diketahui orang lain.

Namun, niat baik saja tidak pernah cukup. Ini yang barangkali jarang dipahami oleh orang-orang semacam Maudy. Alhasil, ketika ia membuat video soal mindfulness, yang agaknya ia buat dengan kepolosan total seorang artis ber-privilege yang hendak membagikan hal baik, ia tidak tahu bahwa dunia luar—dunia orang-orang kebanyakan—berjalan tidak seperti yang ia alami sehari-hari. Ia pun terluput dari kompleksitas hidup orang kebanyakan. Bahwa ketika ia sedang membuat “video baik” di ruangan berpendingin, sebagian besar orang sedang berkecimpung dalam hidup yang berat dan panas, sebagian besar orang sedang berkutat dengan realitas yang pahit dan menyesakkan. Di sinilah persoalannya. Ketika bagi orang-orang seperti Maudy bad news sekadar “berita”, bagi banyak orang di tempat-tempat lain, bad news adalah kenyataan pahit yang mencengkeram hidup mereka sehari-hari . Nuansa inilah yang tidak mendapat tempat dalam video Maudy, sehingga tak heran orang-orang beramai menggugatnya dan menyebutnya tone deaf.

Baiklah. Tulisan ini tidak hendak berpanjang lebar membahas soal pemeran Perahu Kertas itu. Toh sudah banyak orang-orang yang mengkritiknya. Yang bersangkutan juga sudah menyampaikan permohonan maaf dan klarifikasi. Yang jauh lebih penting adalah lapisan di balik ramainya topik soal bad news. Apakah bad news adalah sekadar bad news? Apakah berita buruk hanyalah akal-akalan media, padahal keadaan nyata tidak seburuk itu? Atau sebaliknya, berita buruk itu ternyata cuma versi lebih mending dari kenyataan sehari-hari? Ataukah berita buruk dan kenyataan buruk adalah sebangun?

 

Apakah Bad News Hanya Sekadar “News”?

Dalam pengertian umum, bad news atau berita buruk adalah informasi atau pesan negatif yang tidak diinginkan dan dapat mengubah harapan serta pandangan seseorang terhadap masa depan. Berita buruk bisa digunakan untuk beberapa kepentingan. Media-media massa sering kali menyebarkan berita buruk dengan tujuan untuk meraup sebanyak mungkin pembaca. Sampai-sampai ada slogan “bad news is a good news”. Brand bisnis tertentu membuat berita buruk dengan tujuan menjaring calon konsumen. Para propagandis menyebarkan berita buruk agar orang-orang mendukung pihak mereka dan menentang pihak lawannya. Intinya, berita buruk bukanlah sesuatu yang absolut dan nihil kepentingan. Dan berita buruk juga tak selamanya berarti mewakili realitas yang ada. Berita buruk bisa saja lebih berat ataupun lebih ringan daripada kenyataan yang ada.

Dalam konteks keindonesiaan hari ini, berita buruk yang menghampiri telinga kita setiap hari atau lewat di linimasa media sosial kita, memang tidak bisa dianggap sepele. Berbagai berita buruk itu bukan lagi sekadar kabar yang pengaruhnya jauh dari kehidupan banyak orang. Berita buruk itu sudah menyentuh gerak-gerik banyak orang di negeri ini dan hampir dalam semua lini kehidupan. Berita korupsi punya hubungan dengan banyaknya jalanan rusak dan buruknya sistem birokrasi negeri ini. Berita kebakaran hutan membuat jutaan orang menderita secara fisik dan mental. Berita PHK dan minimnya lapangan kerja langsung bikin runyam kehidupan ribuan rumah tangga. Berita pencemaran lingkungan membuat banyak orang sesak napas, gatal-gatal, dan sakit perut. Dan kita bisa menderet berbagai berita lain yang tak terhitung dan mungkin jauh lebih buruk.

Setidaknya dalam situasi Indonesia terkini, berbagai berita buruk itu bukan sekadar “berita”, melainkan kenyataan yang harus dihadapi sehari-hari. Namun, memang tidak semua orang merasakan ini. Sebagian kecil orang, yang hidup dalam kekayaan dan punya kemewahan untuk bisa memilih tinggal di tempat yang aman dan nyaman, serta tak memiliki kecemasan ekonomi, mungkin tak bisa relate dengan berita buruk sebagai kenyataan. Kebakaran hutan? Ah, kan mereka tinggal di area ibu kota yang jauh dari sumber kebakaran. PHK? Ah, kan mereka berasal dari keluarga yang punya banyak perusahaan. Pencemaran air? Ah, kan mereka tinggal di permukiman premium yang sumber airnya diawasi secara ketat. Alhasil sensitivitas orang-orang yang memiliki banyak privilege terhadap kenyataan buruk sehari-hari menjadi kurang, sebab bagi mereka hal-hal buruk memang cuma “berita” yang sekadar mereka baca dan dengar, bukan sesuatu yang secara langsung menyentuh kulit mereka dan membuat mereka sesak napas.

Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap bad news?

 

Bad News dalam Perspektif Islam

Dalam perspektif Islam, sebuah berita tidak bisa diterima begitu saja. Perlu ada verifikasi lebih lanjut sebelum sebuah berita diterima dan disebarkan. Tak terkecuali dalam hal berita buruk.

Allah ta’ala berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 6:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Jadi, dalam Islam, kaidah dalam menyikapi berita—apakah itu berita baik atau berita buruk—adalah dengan cara diverifikasi dulu. Apakah betul isi beritanya seperti itu? Sudah lengkapkah detail beritanya? Siapa yang menyampaikan beritanya? Bagaimana konteks beritanya? Jika pun benar, apakah berita itu punya versi lain dari sudut pandang lain? Dan seterusnya. Intinya, urusan menerima dan menyebarkan berita dalam perspektif Islam sesungguhnya tidak sesederhana lihat potongan berita lalu menyebarkannya ke seluruh dunia. Perlu ketelitian, verifikasi berulang, dan kecermatan. Jangan sampai kita menerima sebuah berita hanya karena kita sreg dengan si pembawa berita, padahal beritanya tidak valid. Atau sebaliknya, jangan sampai kita menolak sebuah berita hanya karena kita tidak sreg dengan si pembawa berita, padahal buktinya jelas dan beritanya valid.

Kemudian, soal berita buruk yang ternyata memang tidak jauh berbeda dengan kenyataan sehari-hari yang juga buruk, perlu keinsafan lebih jauh bagi kita dalam menyikapi semua ini. Mula-mula, perlu adanya evaluasi secara menyeluruh. Dan ada baiknya evaluasi dimulai dari yang terdekat, yaitu diri kita sendiri. Adakah semua hal buruk yang terjadi belakangan ini ternyata akibat dari perbuatan kita? Apakah perilaku kita yang abai terhadap lingkungan menjadi salah satu sebab kerusakan lingkungan di mana-mana? Apakah ketidakprofesionalan kita dalam dunia kerja menjadi penyebab banyaknya PHK dan memburuknya dunia kerja saat ini? Apakah ketidakacuhan kita terhadap orang-orang sekitar membuat dunia ini jadi terlihat lebih buruk? Pertanyaan-pertanyaan evaluatif semacam itu perlu untuk direnungkan, bukan untuk membebaskan pihak-pihak lain yang lebih berwenang dari tanggung jawab, tapi semata-mata untuk pembenahan pribadi.

Adapun kalau kita telisik lebih jauh, berbagai macam hal buruk ini memang sudah digariskan sebagai takdir, tapi bukan berarti tak ada sangkut pautnya dengan kelakuan-kelakuan sejumlah pihak yang merusak. Sejumlah lapisan masyarakat seperti perusahaan yang nakal dan hobi melanggar aturan maupun pemerintah yang korup dan tidak berpihak kepada kepentingan umum sangat perlu untuk didesak bertanggungjawab dan mengambil langkah praktis dalam mengatasi berbagai sengkarut persoalan yang ada. Dosa-dosa individu sama sekali bukan alasan untuk membuat pihak-pihak berkuasa jadi tunggang-langgang berbuat seenaknya. Individu, masyarakat, maupun pemerintah punya peran masing-masing yang proporsi terbesarnya tentu berada di tangan pemerintah selaku pihak penguasa.

Dalam Surat Ar-Rum ayat 41 Allah ta’ala berfirman:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Perbuatan manusia adalah sumber kerusakan. Tapi beberapa orang menjadi sumber kerusakan yang jauh lebih besar dibanding orang-orang lain. Tentu tidak sama bukan kerusakan yang diperbuat Fir’aun dengan kerusakan yang dibuat oleh pencuri makanan yang terpaksa mencuri karena kelaparan? Dan jelas tidak sama pula efek kerusakan yang dilakukan oleh pemerintah bobrok yang bikin kebijakan bobrok dengan kerusakan yang dilakukan oleh orang biasa yang tak punya daya dan kuasa berarti. Beberapa tangan membuat bad news merebak, menjadikan keburukan itu kenyataan pahit sehari-hari yang harus dihadapi oleh orang-orang kebanyakan. Beberapa tangan lebih berdarah ketimbangan tangan-tangan lain. Dan orang waras mana pun paham, tangan yang darahnya lebih banyak lah yang seharusnya lebih rajin membersihkan diri.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *