Bukan Karena Butuh Healing, Tapi Mungkin Iman Kita yang Kering

Entah apa yang dipikirkan oleh banyak orang belakangan, sehingga kata healing memenuhi ragam pencarian pada internet, mulai dari artikel, tips dan trik, sampai pada ucapan dalam lisan di sela-sela percakapan. Selain kata tersebut, ungkapan self love, mencari jeda, atau berdamai dengan luka batin, kian menjadi istilah populer dalam mengikhtiarkan proses perbaikan diri dari adanya kegagalan, trauma, luka, hingga perasaan terpuruk dalam hidup.

Memang setiap kata memiliki masa, ia dibentuk oleh generasi yang hadir dalam setiap fase-fase kehidupan. Namun perlu dipahami pula, sekali pun setiap kata memiliki masa, kata-kata yang ada sejatinya hadir dari kata yang pernah ada namun dibahasakan dengan penyesuaian keadaan. Artinya, ungkapan-ungkapan tersebut sebelum menjadi kata yang disepakati di setiap generasi, pernah ada sifat dan keadaannya di generasi-generasi sebelumnya. Walaupun kadang, semakin kesini didapati ungkapannya semakin bermakna mengkhawatirkan, mengkerdilkan semangat, mematahkan mental, bahkan tak jarang istilah dalam dunia kedokteran jiwa dipakai untuk membahasakan, padahal tak mudah melekatkan diagnosa tersebut pada setiap orang kecuali mereka yang memiliki kompetensinya.

Keadaan-keadaan yang hadir melalui beraneka ragam ungkapan tadi, sebetulnya mengerucut pada sifat dasar manusia, ingin diperhatikan, ditanya kebutuhannya, dipahami perasaannya, hingga dimengerti maksud dalam hati mereka. Seperti seakan menjadi penanda, bahwa hidup kita ini ada karena bersama, berjumpa, berkata, dan saling menguatkan. Sekali pun kenyataannya, hubungan timbal-balik tak terjadi sepenuhnya, semisal hanya satu pihak saja yang menginginkan perhatian di antara pihak-pihak yang membersamainya, atau hanya dirinya saja yang paling pantas untuk didengarkan keluh-kesah serta luapan emosinya sedangkan orang lain tak memiliki masalah seberat hidupnya.

Manusia memang diciptakan dengan keadaan berkeluh-kesah, serta sering dihinggapi perasaan gelisah.  Inlah yang Allah firmankan, 

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalat.” (QS. Al-Ma’aarij: 19-23).

Bukan manusia, jika tak dipenuhi hari-harinya dengan pehitungan, prediksi, pertimbangan, serta berkutat pada kemungkinan-kemungkinan. Inilah yang menempa seseorang menjad kenal arti kehidupan. Ia hadir dari banyak pengetahuan, dibentuk oleh sekian ruang pengetahuan, dan saling beraktualisasi pada relasi pertemanan. Nilai-nilai inilah yang menghadirkan kejenuhan, penat, gundah, gelisah, atau istilah hari ini yang dikenal dengan insecure.

Ia melihat pencapaian dirinya masih jauh, padahal sudah mati-matian memperjuangkan masa depannya. Dirinya memperhatikan orang di sekitarnya yang satu tingkat dengannya kini berada dalam kesuksesan atau minimal tempat diharapkan, semakin kesini, dirundung perasaan untuk memperbaiki keadaan semakin baik dari urusan-urusan keduniaan. Sehingga, berharap ingin burn outbreak out, beberapa di antaranya berpikir bunuh diri, tapi kebanyakan berupaya untuk menemukan identitas diri melalui menepi, menyendiri, mengasingkan, mengambil jeda, dan menuliskan status bahwa dirinya sedang healing.

Apakah hal demikian sepenuhnya keliru? Tidak, hal itu bukanlah sebuah kesalahan. Manusia memang sekali waktu membutuhkan tempat bagi dirinya sendiri. Ia bukan sosok yang harus terus melayani orang lain dan menghadirkan kegembiraan di hati-hati mereka. Apalagi ia juga perlu menilai dengan seksama posisi dirinya, serta apakah yang dilakukan sudah semestinya. 

Ketahuilah, bagi orang-orang yang beriman, saat ia dirundung kegelisahan dan kepenatan, bukanlah hal yang sulit untuk diatasi. Untuk orang-orang yang hidupnya dekat bersama agama, menemukan arti diri serta mempergunakan waktu untuk healing tidaklah sulit. Ia bisa mendapat titik baliknya sendiri dengan mudah. Sebab, mereka tahu orientasi hidup yang hakiki. 

Saat iman telah menancap dalam dada dengan baik, healing satu-satunya adalah menemukan arti kehidupan dan apa pasal ia diciptakan. Ketika merasakan bahwa healing itu tak kunjung tiba jawabnya, bukan semakin jauh meninggalkan agama yang seharusnya dilakukan, terlebih lagi berlari meninggalkan kepenatan tersebut pada hal yang membawanya semakin jauh pada ketaatan. Akan tetapi lebih menjadikan dirinya harus lebih bersemangat menemukan makna iman di dalam dada. Sebab ketahuilah, kadang yang kita maksud untuk melepaskan beban diri dengan healing, ternyata yang semestinya dicari adalah kondisi hati saat iman kian mengering.

Baca juga: Senjakala Citayam Fashion Week

Menjaga nyala iman di dalam dada tentu tidak mudah, menjadikan iman sebagai jawaban dari kepenatan, juga bukan hal sederhana. Itulah mengapa, ada ujian dan cobaan dalam hidup. Sejatinya bisa memupuk iman dalam diri agar kian terisi. Lantas bagaimana mengisi keimanan yang telah mengering, sebagai upaya healing seorang muslim?

Pertama, sebagaimana telah tercantum di atas, teruslah untuk merenungi perjalanan hidup. Bahwa untuk sampai saat ini, tentu sudah ada puluhan jenuh menyelimuti. Pernah singgah sekian penat silih berganti, dan tak sedikit keluhan untuk mengucap kata menyerah atas kerasnya kehidupan. Akan tetapi, Allah berulang kali menyelamatkan kita, membantu menjadi manusia lebih baik, dan selalu hadir kemudahan saat mengembalikan segala urusan kepada pemilik kehidupan, yakni Allah Ta’ala.

Dari Umair bin Habib rahimahullah, ia berkata: Iman itu bisa bertambah dan berkurang”.
Ditanyakan kepadanya, “Apa tanda bertambah dan berkurangnya keimanan?”
Beliau menjawab, “Apabila kita mengingat Allah lalu kita bertahmid memuji-Nya dan Bertasbih menyucikan-Nya, maka itulah tanda bertambahnya keimanan. Dan jika kita lalai, menyia-nyiakan dan melupakan-Nya, maka itulah tanda berkurangnya keimanan.” (Aqidah Salaf Ashabul Hadits hal. 266)

Kedua, untuk mengisi iman agar tak kian mengering dan sibuk mencari pelarian yang pas untuk healing. Cobalah untuk melihat sekitar kita. Bahwa, ujian dan cobaan, tak hanya dimiliki diri sendiri. Ia juga ada pada orang lain dengan kadar yang berbeda. Semakin sering kita melihat pembanding kehidupan lain di luar kehidupan sendiri, akan membuat kita yakin, bahwa Allah Maha Adil. Selalu ada ujian silih berganti dengan berbagai cabang penyelesaiannya masing-masing. Termasuk kita tentunya, yang sering kali Allah tolong, namun lupa untuk bersyukur di atasnya.

Ketiga, tetaplah beramal, sekali pun dengan kesederhanaan. Cobalah untuk mempertahankan amalan kecil, semata-mata sebagai tanda di hadapan Allah, bahwa kita masih terus berusaha. Perbuatlah amal sederhana, hanya sebagai cara agar Allah menolong kita. Sekali pun amalan tersebut kecil, bahkan bagi diri sendiri. Sebab dengan menjaga amal-amal kecil, setidaknya itu menyelamatkan diri kita dari kekufuran yang bila dibiarkan, akan membawa pada kebinasaan. 

Keempat, dekati orang-orang yang tepat untuk kita ajak bicara. Sebelum berpikir melakukan healing ke tempat jauh. Menguras tabungan hanya untuk melepas beban dan menangisi keadaan namun tak ingin dilihat orang terdekat. Atau sekadar mengasingkan diri sebelum melakukan lompatan yang kadang hanya fatamorgana belaka. Cobalah untuk mencari teman yang tepat. Pasti ada, hal itu hanya membutuhkan sedikit waktu saja agar membuat diri lebih terbuka.

Kelima, bacalah dan ambil pelajaran dari kisah-kisah hidup orang terdahulu dari hamba-hamba Allah yang salih. Sebab dengan itu, kita akan diajak oleh kisah, tentang perjalanan hidup mereka yang Allah berikan cobaan, bahkan mungkin lebih berat dari kita. Tidak lupa pula, dibalik itu semua, kita juga bisa belajar soal bagaimana mereka, para salihin terdahulu menjaga amal sekaligus imannya, hingga akhirnya masalah-masalah tersebut dilewati tanpa menempuh proses healing seperti yang kita kenal hari ini.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata,

مِنْ أَسْبَابِ زِيَادَةِ الْإِيمَانِ
أَنْ يُطَالِعَ الْإِنْسَانُ فِي سِيرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ

“Di antara sebab bertambahnya keimanan seseorang adalah ia mempelajari sirah Nabi dan para sahabatnya yang mulia.” (Fatawa Nur Ala ad-Darb, 12/17)

Jadi, sebelum sibuk mencari tempat untuk healing, cek dahulu diri kita, jangan-jangan justru iman kita yang kering. 

Rizki Aji Hertantyo
[Penulis buku “Pengantar Kepengasuhan Lembaga Pendidikan Islam”]

Leave a Reply

Your email address will not be published.