Dunia Robot di Depan Mata
Published Date: 27 May 2026
Impian manusia tentang dunia masa depan nan modern tidak pernah lepas dari kehadiran robot. Dalam banyak sajian fiksi mudah ditemukan kehadiran entitas robot, baik sebagai rekan setara, budak, hingga musuh yang menakutkan. Atau dalam imajinasi paling ekstrem, manusia ingin menjadi sebuah robot itu sendiri, dengan kapasitas fisik yang melampaui batas normal.
Ada Robocop, cerita tentang seorang polisi berintegritas yang kemudian dihabisi dalam tugas. Lantaran orang-orang di sekitarnya tidak ingin segera kehilangan sosoknya. polisi tersebut menjadi makhluk hibrida setelah melalui rangkaian proses pencangkokan teknologi mesin di sebagian tubuhnya. Robocop menjelma makhluk berkekuatan super, dengan kerangka tubuh kokoh, visualisasi statistik objek di depannya, dan berbagai perangkat super lain. Ada juga cerita dari I Robot, tentang deretan humanoid dengan kemampuan berpikir kognitif sehingga membuat mereka punya impian. Manusia berhadapan dengan robot yang sebelumnya dibuat untuk memudahkan hidup mereka. Sajian fiksi tentang robot tidak hanya terekam dalam film saja, tapi juga melalui berbagai buku cerita yang menampilkan sosok robot dalam berbagai format.
Imajinasi menjadi koin berharga untuk menumbuhkan harapan menjadi nyata. Dalam dunia nyata kehadiran robot seperti dalam film terus diperjuangkan. Mulai dari pembuatan robot dengan fungsi mekanis sederhana serupa gerak tubuh manusia hingga robot yang mereplikasi ranah kognitif lewat kecerdasan buatan. Realitas robot dihadirkan untuk memudahkan kerja manusia secara fisik maupun pikiran. Robot di dunia nyata memang belum punya bentuk humanoid utuh maupun fungsi gerak maksimal. Baru bisa memindahkan objek dari satu tempat ke tempat lain, misalnya. Namun, dalam praktik industri kemampuan tersebut ternyata punya peran penting, ketika pabrik butuh alat kerja yang tak kenal lelah dan selalu presisi melakukan pekerjaannya. Kehadiran robot perlahan menggantikan peran manusia.
Robot di Depan Mata
Riset dan pengembangan robot tersebut dilakukan dari tahun ke tahun. George Devol pada 1954 telah memulainya dengan lengan robot pertama sekaligus dianggap sebagai ‘first robot’ yang pernah ada. Konsep lengan mekanis tersebut pada akhirnya digunakan secara masif di banyak pabrik dunia untuk membantu proses produksi. Teknologi robot semakin sempurna setelah dipadukan dengan kecerdasan buatan. Robot tidak lagi punya fungsi pasif dengan satu model kerja saja, tapi juga mampu melakukan analisis dan observasi pada barang hasil produksi.
Industri otomotif menjadi salah satu yang paling progresif dalam pemanfaatan robot untuk membantu proses produksi. Dan China menjadi negara paling semangat mengaplikasikan robot di dalam industri mereka. Pemanfaatan robot dalam proses produksi mobil listrik di China bahkan membuat CEO Honda, Toshihiro Mibe, menciut juga. Selepas kunjungan ke salah satu pabrikan mobil di China tahun lalu, Mibe melontarkan pernyataan yang kemudian menjadi highlight di seluruh dunia.
“Kami tidak ada peluang melawan ini,” ujar Mibe dikutip dari Nikkei Asia. Kalimat itu keluar setelah Mibe melihat bagaimana proses produksi mobil listrik di China nyaris sepenuhnya menggunakan robot. Mulai dari penyediaan bahan baku, manajemen logistik, dan keseluruhan fasilitas sudah menggunakan robot. “Tidak ada manusia di lantai produksi,” kata Mibe. Honda sendiri memang mulai terancam dengan kehadiran industri otomotif China yang makin masif mengekspansi dunia. Baik Honda maupun pabrikan lain di Jepang pun mulai memacu proses riset mereka agar bisnisnya tetap aman dan tidak tergerus.
Robot memang menjadi salah satu kunci bagi kemajuan bisnis dan industri China yang terus melambung tinggi. Alasan utama karena robot dijamin tidak akan kelelahan serta punya tingkat presisi tinggi dalam menyelesaikan pekerjaan, terutama yang repetitif. Termasuk dapat meningkatkan efisiensi bisnis secara terukur. Di antara model efisiensi yang paling populer dikenal dengan istilah “Dark Factories”, yakni sebuah kondisi pabrik yang gelap gulita namun proses produksi dapat tetap berjalan. Hal itu dapat terjadi karena robot-robot di sana telah dijejalkan informasi AI untuk dapat bekerja tanpa bantuan lampu sama sekali. Selain karena memang robot tersebut tidak ada kebutuhan cahaya untuk visualisasi apapun melakukan proses pekerjaannya.
Dampak lanjutan dari efisiensi yang didapat dalam proses produksi ialah harga jual barang dapat ditekan sehingga dapat dijual lebih murah kepada konsumen. Brand mobil seperti BYD, Jaecoo, Wuling, dan sebagainya, punya harga lebih murah dibandingkan kompetitor dari Jepang atau Eropa. Meski begitu, fitur yang terdapat di dalamnya sangat kaya dan kompetitif. Tidak heran apabila kemudian konsumen mulai melirik mobil produksi China. Perang harga juga terjadi dalam industri telekomunikasi, di mana brand smartphone dari China hadir dengan harga terjangkau tapi kaya fitur. Meski belakangan brand dunia seperti Apple sudah mulai mengalihkan produksi utamanya juga di daratan China.
Masa Depan Manusia
Secara filosofis diciptakannya robot ialah untuk membantu manusia dalam pekerjaan sehari-hari. Perlahan-lahan keinginan itu sudah terwujud dan bisa jadi makin mendekati ideal seiring waktu berjalan. Hanya saja, ada konsekuensi lain yang muncul ketika pekerjaan yang tadinya dilakukan oleh manusia, diambil alih robot. Artinya ada manusia yang kemudian kehilangan pekerjaannya. Bila pekerjaan itu menjadi jalan memperoleh gaji/bayaran, berarti akan ada manusia yang tak punya pekerjaan. Masalahnya semakin besar ketika dia adalah kepala rumah tangga, sehingga akan ada satu keluarga yang harus mencari sumber pendapatan baru. Kehadiran robot dalam sebuah bisnis industri dapat menjadi solusi sekaligus menghadirkan masalah lebih besar dalam bidang ekonomi dan sosial.
Di sisi lain, implementasi robot dalam industri tidak dapat dengan segera dilakukan. Butuh biaya besar ketika perusahaan ingin memakai robot dalam sistem produksi mereka. Sebagai gambaran, lengan robot 6-axis membutuhkan biaya USD 25.000 – 180.000 di tahun 2026 ini. Rentang itu tergantung pada spesifikasi yang dibutuhkan, serta negara asal perakitan robot. Menariknya, International Federation of Robotics (IFR) mencatat bahwa terjadi penurunan harga sekitar 3-5% selama 3 tahun terakhir akibat hadirnya lengan robot versi OEM dari China. Biasanya perusahaan besar saja yang kemudian memanfaatkan robot untuk menggantikan peran manusia dalam proses produksinya.
Pemerintahan suatu negara juga perlu memikirkan dampak ekonomi dan sosial apabila hendak menggunakan robot untuk mempercepat produksi manufaktur dalam negeri. Apalagi jika suatu negara tidak punya banyak sektor pekerjaan untuk dijalankan manusia, penduduk di dalam negara tersebut. Peluang chaos akan lebih besar karena berkurangnya kesempatan kerja dan meningkatnya pengangguran.
China yang banyak mengaplikasikan robot dalam industri dan manufakturnya telah menyadari potensi masalah apabila mengabaikan kebutuhan manusia untuk bekerja. Alih-alih mengganti manusia sepenuhnya dengan robot, mereka ingin menjadikan robot sebagai asistensi kerja. Manusia masih dapat bekerja pada sektor lain yang belum bersinggungan langsung dengan robot, seperti jasa pengantaran, layanan restoran, sampai pendidikan. Ada pekerjaan yang masih membutuhkan sentuhan emosi yang tidak dimiliki oleh robot.
Sementara untuk pekerjaan beresiko bagi manusia, peran robot mulai dipertimbangkan untuk jadi opsi utama. Dikutip dari news18.com, Liang Liang selaku Deputy Director Beijing Economic-Technological Development Area berkata, “Kami tidak percaya robot akan membuat pengangguran, namun mereka meningkatkan efisiensi atau mengambil pekerjaan yang tidak perlu dilakukan manusia, seperti eksplorasi bawah laut yang tak dapat ditempuh manusia. Mesin dapat membantu kita dalam hal itu.”
Manusia masih dianggap sebagai entitas yang punya superioritas dalam hal pemikiran. Meskipun ada kecerdasan buatan (AI) yang dijejalkan ke dalam sistem robotik, namun bagian inovasi tetap berada di genggaman manusia. Robot tidak punya sentuhan emosi dalam proses kerja yang masih berhubungan dengan kejiwaan manusia, seperti perasaan senang, sedih, dan marah. Namun hal itu tidak akan berlangsung lama, sebab manusia sendiri tetap dituntut menaikkan level mereka. Nantinya peran manusia akan hadir sebagai pengawas dan yang mengatur sistem dari para pekerja robot tersebut.
Dalam potensi apa pun, robot tetap diperlukan kehadirannya dalam hidup kita. Konvergensi teknologi dari berbagai bidang telah menciptakan robot yang makin mirip manusia. Agar potensi terbaik dapat terus didorong dari terciptanya sebuah robot, maka nilai-nilai manusia tetap perlu dirawat sehingga inovasi teknologi yang dibuat nantinya selaras dengan kebutuhan hidup manusia itu sendiri.
